Saya harap kamu bisa menikmati tulisan ini. Jangan lupa berikan komentar kamu di akhir halaman ini dan share juga ke media sosial 😉.

Takdir Allah : Penjelasan, Contoh dan Cara Menyikapi Takdir

Ringkasan
Untuk apa harus kerja? Toh rejeki itu sudah menjadi takdir Allah kog. Bagaimana cara menyikapi takdir Allah dengan benar dan sesuai dengan nilai Islam?

Membahas soal takdir Allah, terkadang banyak kerancuan muncul pada hal yang satu ini.

Seperti yang kita ketahui, rezeki, jodoh, kematian, kehidupan merupakan takdir Allah.

Hal ini akhirnya memunculkan sebuah pertanyaan, misalnya dalam hal rezeki:

Kalau rezeki adalah takdir Allah, untuk apa kita harus susah-susah bekerja? Toh hasilnya sudah akan pasti sesuai dengan takdir Allah.

Jika kita ditakdirkan hidup sebagai orang miskin, maka sekeras apa pun usaha yang kita lakukan hasilnya tetap akan miskin. Dan sebaliknya, jika kita ditakdirkan sebagai orang kaya, maka usaha minimal pun pasti hasilnya akan besar dan berlimpah.

Ada juga misalnya seorang wanita yang menjual diri, saat diminta untuk bertobat, dia mengatakan bahwa sudah takdirnya untuk bekerja seperti ini. Karena kalau tidak menjajakan diri, dari mana dia akan mendapatkan uang?

Lalu bagaimana kita harus menyikapi takdir ini?

Pendapat Islam soal takdir

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Alah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.

TQS Ali Imran: 145

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

TQS Al Hadid: 22

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertwakkal.”

TQS At-Taubah: 51

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kami perbuat itu.

TQS Ash-Shaffaat: 96

Dan ada juga dalil dari hadits, sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam:

“Roh Kudus (jibril) telah membisikkan ke dalam kalbuku: Tidak akan mati suatu jiwa sebelum dipenuhi rizki, ajal, dan apa-apa yang ditakdirkan baginya.”

Ayat-ayat dan dalil diatas sering dipakai untuk memberi kesan bahwa manusia itu seolah-olah dipaksa untuk melakukan perbuatannya. Dan terkesan pula bahwa Allah telah menciptakan manusia sekaligus dengan perbuatannya.

Artinya, segala perbuatan yang manusia lakukan sekarang ini, seperti membaca, menulis, berjudi, dll adalah hal yang telah ditakdirkan oleh Allah dan manusia tidak memiliki kemampuan untuk menolaknya.

Hal ini membuat terjadinya perbedaan pendapat antara mazhab Islam.

Mazhab Jabariyah memiliki pendapat soal takdir kira-kira seperti ini:

Allah telah menciptakan manusia beserta perbuatannya. Manusia “dipaksa” melakukan perbuatannya dan tidak memiliki kebebasan untuk memilih.

Mazhab Mu’tazilah memiliki pendapat soal takdir:

Manusia sendiri yang menciptakan perbuatannya, sehingga manusia akan dihisab berdasarkan perbuatannya.

Berbeda pula dengan Ahli Sunnah yang memiliki pandangan:

Manusia memiliki apa yang disebut dengan kasb ikhtiari pada setiap perbuatannya (saat manusia akan berbuat sesuatu, maka Allah akan menentukan / menciptakan amal perbuatannya tersebut.

Posisi takdir dalam kehidupan manusia

Dalam Islam, secara spesifik takdir memiliki 2 pembahasan yaitu Qadla (keputusan Allah) dan Qadar (ketetapan Allah).

Nah sebelum lebih dalam membahas soal takdir, kita perlu memisahkan 2 area kekuasaan dulu:

  1. Area yang dikuasai manusia,
  2. Area yang menguasai manusia.

Area yang dikuasai adalah area yang berada dibawah kekuasaan manusia dan semua perbuatan yang pada lingkup pilihannya.

Sedangkan area yang menguasai manusia adalah areanya Allah, sehingga manusia tidak punya andil atau campur tangan apa pun.

Qadarullah: Segala sesuatu yang merupakan ketetapan Allah

Qadar Allah dalam kehidupan ini bisa di artikan sebagai sebuah ketetapan Allah baik pada area yang menguasai atau yang dikuasai manusia.

Sehingga, manusia tidak memiliki andil sedikit pun pada apa-apa yang menjadi ketetapan Allah. Manusia harus meyakini setiap hal yang menjadi qadar Allah ini, baik atau buruknya, adalah datang dari Allah.

Seperti khasiat (sifat dan ciri khas) tertentu pada benda-benda yang ada di alam semesta ini.

Misalnya api, diciptakan dengan khasiat membakar, panas.

Kayu, misalnya memiliki khasiat mampu terbakar.

Pisau, terdapat khasiat memotong.

Misalnya pada jasmani manusia, terdapat naluri (gharizah) yang telah ditetapkan oleh Allah. Dan pada naluri ini juga terdapat sifat dan ciri khasnya (khasiat). Misal:

  • Gharizatun nau’ (naluri mempertahankan dan melestarikan keturunan), telah diciptakan khasiat seperti dorongan seksual ke lawan jenis.
  • Gharizatul baqa (naluri mempertahankan hidup), maka telah diciptakan khasiat pada manusia seperti rasa lapar, haus, dsb.
  • Gharizatul tadayyun (naluri untuk mengagungkan sesuatu), maka akan ada dorongan pada naluri manusia untuk selalu ingin mengagungkan sesuatu.

Khasiat yang ditetapkan Allah pada benda-benda ini sesuai dengan nizhamul wujud yang tidak bisa dilanggar.

Jika pun ternyata khasiat ini melanggar nizhamul wujud, maka artinya Allah telah menarik khasiat pada benda tersebut. Tapi hal ini hanya terjadi bagi para Nabi yang menjadi mukjizat bagi mereka.

Misalnya, api yang khasiatnya adalah panas dan membakar, tapi pada nabi Ibrahim khasiat tersebut diangkat oleh Allah sehingga api tadi menjadi dingin.

Nah, khasiat pada benda-benda di alam semesta ini memiliki potensi yang dapat digunakan manusia untuk menjadi perbuatan amal maupun perbuatan yang mendatangkan dosa.

Seperti pisau, terdapat khasiat memotong:

  • Bisa menjadi amal jika digunakan untuk memasak makanan yang lezat,
  • Tapi akan menjadi dosa jika digunakan untuk membunuh manusia tanpa alasan.

Qadla: Keputusan Allah

Berbeda dengan qadar yang merupakan ketetapan Allah yang telah ditetapkan berupa khasiat pada benda di alam semesta ini yang bersifat nizhamul wujud (Sunnatullah).

Pada hal ini erat hubungannya antara 2 area di atas tadi, yaitu:

  • area yang dikuasai manusia,
  • area yang menguasai manusia.

Pada area yang dikuasai manusia, manusia bebas melakukan perbuatan apa pun sesuai dengan kehendaknya sendiri. Bekerja, tidur, beribadah, bermaksiat.

Semua berdasarkan keinginannya.

Namun pada area yang menguasai manusia, mereka tidak memiliki andil dan urusan sedikit pun. Dan kejadian di area ini dibagi menjadi 2 kejadian:

  1. Kejadian yang ditentukan oleh nizhamul wujud,
  2. Kejadian yang tidak ditentukan oleh nizhamul wujud tapi tetap berada diluar jangkauan manusia.

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Uppsi... 🤭, ngga error kog! Tapi maaf nih sementara ini website hanya dioptimasi untuk pengguna smartphone.

So, gunakan hapemu untuk membuka website ini 😉